Di Balik Pengakuan Negara Palestina: Runtuhnya Narasi Bela Diri dan Terungkapnya Tujuan Ekspansi Israel

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Gelombang pengakuan kedaulatan Palestina oleh Inggris, Australia, Kanada, dan Portugal pada Ahad, 21 September 2025, menjadi lebih dari sekadar manuver diplomatik. Keputusan bersejarah ini menandai titik balik persepsi global, yang mulai melihat melampaui narasi “pembelaan diri” yang selama ini dikampanyekan Israel sebagai pembenaran atas tindakannya.

Langkah terkoordinasi ini, yang menyusul keputusan serupa oleh Spanyol, Norwegia, dan Irlandia, secara implisit mengonfirmasi apa yang telah lama disuarakan para analis dan pejuang hak asasi manusia: agresi Israel di Palestina bukanlah respons sesaat terhadap serangan 7 Oktober 2023, melainkan bagian dari agenda yang jauh lebih besar dan sistematis.

Tipuan Kampanye Bela Diri dan Tujuan Sebenarnya

Bagi banyak pengamat, klaim pembelaan diri yang digaungkan Israel hanyalah tipuan belaka. Tujuan Israel yang sebenarnya, yang telah dijalankan secara konsisten selama bertahun-tahun, adalah memperluas cakupan wilayahnya di Tepi Barat, yang mereka sebut sebagai Yudea dan Samaria. Agenda ekspansionis ini terus berjalan, mengabaikan kritik tajam baik dari faksi politik di dalam negeri maupun kecaman dunia internasional.

Tujuan ini bahkan secara langsung terkonfirmasi dari pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan para politisi sayap kanan di pemerintahannya, yang berulang kali menegaskan hak ilahi dan historis bangsa Yahudi atas seluruh tanah tersebut, serta mendorong pembangunan pemukiman ilegal secara masif. Akibatnya, tidak mengherankan jika peta wilayah Israel dari tahun ke tahun menunjukkan ekspansi yang terus meluas, sementara wilayah Palestina semakin menyusut dan terfragmentasi.

Untuk mencapai tujuan ini, Israel menerapkan strategi jangka panjang yang brutal. Jalur Gaza diisolasi selama berpuluh-puluh tahun, mengubahnya menjadi penjara raksasa bagi lebih dari dua juta penduduknya. Di saat yang sama, puluhan ribu warga Palestina termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses hukum karena dituduh teroris.

7 Oktober: Aksi Pembelaan Diri dan Pesan untuk Dunia

Dalam konteks inilah aksi yang dilancarkan oleh pejuang Palestina pada 7 Oktober 2023 harus dipahami. Jika aksi tersebut tidak pernah terjadi, rakyat Palestina akan terus kehilangan tanah mereka sedikit demi sedikit. Lebih banyak lagi warga yang akan ditangkap, diusir, dan dibunuh dalam senyap, jauh dari sorotan media global.

Oleh karena itu, aksi 7 Oktober 2023 bukanlah tindakan tanpa sebab, melainkan sebuah aksi perlawanan dan pembelaan diri yang tak terhindarkan. Itu adalah sebuah “teriakan” yang dirancang untuk mengabarkan kepada dunia tentang kebiadaban dan pelanggaran kemanusiaan sistematis yang telah dilakukan Israel selama berpuluh-puluh tahun.

Tujuan untuk menyadarkan dunia ini, tampaknya, sedikit demi sedikit mulai tercapai. Pengakuan dari negara-negara Barat yang sebelumnya merupakan sekutu Israel, ditambah dengan dukungan lebih dari 140 negara anggota PBB yang telah lebih dulu mendukung kemerdekaan Palestina, adalah buktinya. Dunia kini dipaksa untuk melihat realitas penindasan yang selama ini sering diabaikan.

Baca juga : Hamas Dan Rakyat Palestina, Saudara Muslim Terdepan Dalam Mempertahankan Kiblat Pertama Umat Muslim

Pada akhirnya, peristiwa ini menyimpulkan bahwa label “terorisme” yang disematkan Israel pada pejuang Palestina adalah upaya untuk mengaburkan fakta. Sebaliknya, 7 Oktober adalah babak baru perlawanan rakyat Palestina untuk membela eksistensi mereka dan menuntut pertanggungjawaban dunia atas kejahatan yang telah berlangsung selama 75 tahun. (fr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !