Akar Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi: Refleksi Pengasuhan Sejak Dini

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Belakangan ini, wajah dunia pendidikan tinggi di Indonesia tercoreng oleh serangkaian kasus kekerasan seksual yang melibatkan berbagai elemen di kampus, mulai dari mahasiswa hingga tingkat Guru Besar. Universitas-universitas ternama seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), hingga Institut Teknologi Bandung (ITB) tidak luput dari catatan kelam ini.

Banyak yang bertanya, mengapa institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan intelektualitas justru menjadi tempat suburnya perilaku menyimpang ini? Menjawab hal tersebut, psikolog Elly Risman dalam sebuah webinar menekankan bahwa perilaku ini tidak muncul secara instan di bangku kuliah, melainkan berakar jauh ke belakang yaitu pada pola pengasuhan sejak usia dini.

Melacak Akar Masalah: “Pengasuhan yang Tidak Menyenangkan”

Elly Risman menegaskan bahwa kekerasan seksual bukanlah fenomena yang hanya muncul di tingkat perguruan tinggi. Jika kita menarik benang merah, perilaku tersebut sering kali berakar dari pola asuh yang “tidak benar, tidak baik, dan tidak menyenangkan” sejak anak masih berada di tingkat PAUD.

Banyak orang tua yang terjebak dalam rutinitas tanpa memiliki kesepakatan matang mengenai tujuan pengasuhan. Sering kali, pengasuhan “disubkontrakkan” atau diserahkan kepada pihak lain karena kesibukan orang tua. Ketika anak kehilangan ikatan emosional (attachment) yang sehat dengan orang tuanya di masa kecil, jiwa mereka menjadi rentan. Hal ini dapat memicu kecemasan mendalam yang, jika tidak ditangani dengan tepat, akan terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang memandang relasi kuasa dan tubuh orang lain.

Fenomena Ghost in the Nursery dan Relasi Kuasa

Poin krusial yang diangkat Elly Risman adalah konsep Ghost in the Nursery (Hantu di Pendidikan Kanak-Kanak). Konsep ini menjelaskan bahwa trauma atau pola pengasuhan masa lalu yang tidak tuntas pada orang tua dapat muncul secara tidak sadar saat mereka menghadapi anak-anaknya.

Dalam konteks kasus kekerasan seksual di kampus termasuk yang melibatkan Guru Besar, kita dapat melihat adanya ketimpangan relasi kuasa yang disalahgunakan. Seseorang yang tumbuh dengan pola asuh yang otoriter atau tanpa kasih sayang yang cukup, mungkin belajar bahwa “kekuasaan” adalah alat untuk menundukkan orang lain. Ketika individu tersebut memegang posisi dominan, baik sebagai senior maupun dosen/guru besar, ada potensi perilaku masa lalu tersebut terulang dalam bentuk eksploitasi seksual karena kurangnya empati dan pemahaman atas hak tubuh orang lain.

Peran Ayah dan Kesiapan Orang Tua

Elly Risman menyoroti bahwa pengasuhan bukan hanya tugas ibu. Keterlibatan ayah dalam perencanaan pendidikan dan pengambilan keputusan sejak awal pernikahan sangat krusial. Kurangnya keterlibatan figur ayah sering kali membuat anak tidak memiliki role model yang baik mengenai bagaimana menghormati gender lain.

Kasus-kasus di UI, Unpad, dan ITB menjadi pengingat keras bagi masyarakat. Bahwa pendidikan karakter tidak dimulai saat seseorang masuk universitas, melainkan saat anak pertama kali belajar berkomunikasi dengan orang tuanya di rumah. Komunikasi yang dilakukan dengan kasih sayang (qulan layinan) dan kebenaran (qulan sadidan) adalah fondasi dasar yang membentuk manusia agar tidak menjadi predator bagi sesamanya.

Menuju Perubahan

Mengatasi kekerasan seksual di perguruan tinggi tidak cukup hanya dengan pembentukan satgas atau regulasi di kampus. Perlu ada gerakan kesadaran kolektif dari hulu: para orang tua. Kesiapan menjadi orang tua bukan sekadar mampu secara ekonomi, tetapi mampu memberikan cinta, perhatian, dan pendidikan nilai yang tepat sejak dini.

Jika kita ingin melahirkan generasi mahasiswa dan intelektual yang beradab, kita harus mulai membenahi “hantu-hantu” dalam pengasuhan kita sendiri. Karena pada akhirnya, kampus hanyalah cerminan dari apa yang telah ditanamkan di dalam rumah selama belasan tahun sebelumnya.

Referensi : Webinar Elly Risman, Psi “Ternyata Hal Hal Ini Juga Termasuk Pelecehan Seksual”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !