Satelit Deteksi 25 TPA Paling Berpolusi di Dunia: Satu Lokasi Setara Emisi 1 Juta SUV, TPA Bantargebang Penghasil Metana Kedua Dunia

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Laporan terbaru tahun 2025 yang dirilis tim riset dari Emmett Institute di University of California Los Angeles (UCLA) menggunakan data dari Carbon Mapper mengungkap realitas mengejutkan mengenai emisi metana dari sektor limbah global. Melalui teknologi satelit canggih—Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT milik NASA di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS)—ilmuwan berhasil mengidentifikasi 25 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah dengan tingkat emisi tertinggi di dunia.

Emisi Ekstrim yang Mengkhawatirkan

Data yang dikumpulkan sepanjang tahun 2025 menunjukkan adanya lebih dari 2.994 gumpalan metana (plumes) dari 707 lokasi pembuangan sampah di berbagai negara. Sementara mayoritas TPA hanya melepaskan puluhan kilogram metana per jam, situs-situs yang masuk dalam daftar “Top 25” ini membuang antara 3,6 hingga 7,5 ton metana per jam. TPA Bantargebang yang di kelola Pemprov Jakarta tercatat sebagai TPA dengan penghasil Gas Metana kedua di dunia setelah Campo de Mayo, Buenos Aires, Argentina.

Sebagai gambaran betapa besarnya dampak ini: satu TPA yang melepaskan 5 ton metana per jam memberikan kontribusi terhadap pemanasan global yang setara dengan satu juta mobil SUV yang beroperasi selama setahun, atau sebanding dengan satu pembangkit listrik tenaga batubara besar (500 megawatt).

Daftar 25 TPA dengan Emisi Metana Tertinggi di Dunia (2025)

PeringkatLokasiKota/Area TerdekatLaju Emisi (ton/jam)Operator yang Berpotensi Bertanggung Jawab
1Campo de Mayo, ArgentinaBuenos Aires7.6CEAMSE
2Bekasi, Jawa Barat, IndonesiaJakarta6.3Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
3Jeram, Selangor, MalaysiaKuala Lumpur6.0Worldwide Holdings
4Secunderabad, Telangana, IndiaHyderabad5.9Ramky Enviro Engineers
5Tiltil, ChileSantiago5.5KDM Tratamiento
6Talagante, ChileSantiago5.2Consorcio Santa Marta
7Riyadh, Arab SaudiRiyadh5.1Riyadh Municipality
8Kamphaeng Saen, ThailandBangkok5.0Group 79 Co. Ltd
9Penco, Biobío, ChileConcepcion5.0Grupo EBI
10Fazenda Rio Grande, BrazilCuritiba4.9Estre
11Al Jumum, Arab SaudiJeddah4.9Seder
12Maharashtra, IndiaMumbai4.9Antony Waste Handling Cell Ltd
13Caieiras, BrazilSão Paulo4.8Solvi
14Rodriguez, Rizal, FilipinaManila4.6Int. Solid Waste Integrated Management Specialist
15Algiers, AljazairAlgiers4.3GECETAL
16Hong Kong North District, S.A.R.Hong Kong4.2Far East Landfill Technologies Ltd.
17Simeprodeso, Nuevo León, MeksikoMonterey4.1Government of Nuevo Léon
18Southern District, IsraelBerbagai kota4.1Veridis Environment
19Fyli, Attica, YunaniAthens4.0EDSNA
20Mauá, BrazilSão Paulo4.0Grupo Boa Hora
21Needville, Texas, ASHouston3.8Green For Life Environmental
22Ray County, IranTehran3.8Tehran Waste Management Organization (TWMO)
23Rajm Khashman, Al Ahmadi, KuwaitKuwait City3.8Kuwait Municipality
24Şile, TürkiyeIstanbul3.8İSTAÇ (Anak usaha Istanbul Metropolitan Municipality)
25Menemen, Türkiyeİzmir3.6Metropolitan Municipality of İzmir

“Dishonorable Mention”: Rekor Baru di Turki

Selain daftar utama, laporan ini memberikan perhatian khusus pada dua lokasi dengan emisi yang melonjak drastis hingga awal 2026:

  • Silivri, Turki: Menjadi pencemar terbesar yang pernah tercatat dengan emisi mencapai 8,4 ton per jam, melampaui semua situs dalam daftar Top 25 tahun 2025. Lokasi ini melayani kota Istanbul dan dioperasikan oleh İSTAÇ.
  • Abidjan, Pantai Gading: Mencatat emisi sebesar 4,6 ton per jam.

Transparansi Operator Bertanggung Jawab

Untuk pertama kalinya, penelitian yang dilakukan oleh tim dari Emmett Institute (UCLA Law) mencoba mengidentifikasi operator yang bertanggung jawab di balik situs-situs polutan tersebut. Dengan menggabungkan data geospasial satelit dan riset publik, mereka berhasil melacak pengelola situs-situs besar, seperti:

  • CEAMSE di Buenos Aires, Argentina (peringkat teratas daftar 2025).
  • Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Indonesia (Peringkat dua daftar 2025)
  • World Wide Holdings, Malaysia (Peringkat tiga daftar 2025)
  • Pemerintah Kota Izmir untuk fasilitas Harmandalı di Turki.
  • Eco-Eburnie di Pantai Gading.

Batasan Teknologi

Meskipun data ini merupakan gambaran paling akurat saat ini, para peneliti mencatat bahwa satelit memiliki keterbatasan. Instrumen tidak dapat melihat menembus awan tebal atau dalam kondisi gelap. Oleh karena itu, kemungkinan besar masih ada kejadian emisi ekstrem lainnya yang tidak tertangkap oleh sensor orbit.

Laporan ini menekankan bahwa mengidentifikasi titik panas (hotspots) ini adalah peluang besar bagi pemerintah dunia untuk melakukan tindakan pengurangan emisi secara cepat guna memperlambat laju perubahan global.

Sumber : Emmett Institute di University of California Los Angeles (UCLA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !