Saat Literasi Indonesia Merosot, Perpustakaan Harus Bangkit

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Literasi merupakan komponen penting dalam peningkatan kualitas pendidikan. Tingginya tingkat literasi menandakan bahwa ilmu pengetahuan dapat terserap secara maksimal. Dalam konteks pendidikan, kualitas literasi guru dan murid menjadi salah satu indikator utama mutu pendidikan yang dijalankan.

Sayangnya, kualitas literasi di Indonesia masih tergolong rendah. Data terbaru PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022 yang dipublikasikan pada Desember 2023 menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Skor literasi membaca Indonesia hanya berada pada angka 359, jauh di bawah rata-rata internasional. Hanya sekitar 25% siswa yang mencapai literasi dasar (Level 2+). Secara umum, capaian ini mengalami penurunan dibanding hasil PISA 2018. Lebih memprihatinkan lagi, masih ditemukan kasus siswa SMP yang belum bisa membaca. Sebagian besar siswa juga tertinggal dalam kemampuan memahami teks sederhana hingga kompleks.

UNESCO menyoroti lemahnya budaya literasi siswa Indonesia. Berdasarkan data tahun 2025, minat baca masyarakat Indonesia berada pada skor 0,001. Ini berarti setiap 1000 penduduk hanya 1 orang yang gemar membaca. Banyak siswa lebih terpapar gawai sehingga mengabaikan upaya peningkatan literasi. Di sisi lain, masalah sistemik seperti keterbatasan akses buku bacaan juga menjadi penghambat. Peran perpustakaan sekolah, yang seharusnya menjadi lokomotif peningkatan literasi, masih belum signifikan. Infrastruktur, akses internet, serta ketersediaan buku bacaan masih sangat tidak merata antar daerah.

Dalam dunia pendidikan, perpustakaan sekolah memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya literasi siswa. Namun, peran tersebut belum berjalan optimal. Mindset siswa terhadap kegiatan membaca masih sebatas kewajiban, bukan kebutuhan atau hobi. Penggunaan gawai yang kian meluas turut menggerus minat membaca. Minimnya variasi buku juga menjadi masalah pengembangan perpustakaan sekolah, yang sering kali hanya didominasi buku paket. Integrasi digital pun masih sangat terbatas. Akibatnya, perpustakaan sekolah lebih sering berfungsi sebagai “gudang penyimpanan buku” ketimbang ujung tombak peningkatan literasi.

Permasalahan lain muncul pada aspek sumber daya manusia. Jumlah pustakawan di sekolah masih sangat minim, sehingga tugas kepustakawanan sering dibebankan kepada guru. Hal ini terjadi karena sedikitnya tenaga pustakawan dengan latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan. Akibatnya, peran pustakawan kerap dipersepsikan hanya sebagai “penjaga buku”, padahal sejatinya pustakawan dapat berperan sebagai inisiator budaya literasi sekaligus fasilitator riset.

Idealnya, perpustakaan sekolah harus menjadi ruang yang mengutamakan aktivitas student learning centered. Sebagai sumber informasi, perpustakaan perlu dimanfaatkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Negara-negara maju menjadikan pendidikan sebagai jalan menuju terbentuknya knowledge based society, masyarakat berbasis pengetahuan yang memiliki ciri kreatif, inovatif, solutif, demokratis, beretika, serta menjadi pembelajar mandiri dan sepanjang hayat.

Oleh karena itu, penataan perpustakaan sekolah harus dilakukan secara serius. Upaya peningkatan literasi siswa menuntut adanya integrasi digital, penyediaan variasi bacaan yang lebih kaya, serta pengembangan profesi pustakawan. Dengan demikian, perpustakaan dapat berfungsi sebagai gudang ilmu pengetahuan yang layak sekaligus relevan bagi siswa.

Ditulis oleh : Muhammad Mujahid Akbar, S.Pd, M.Pd (Guru SDIT TBZ Pondok Hijau Permai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !