Hikmah Jum’at : Ujian Pemuda Kahfi

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Pemuda Kahfi adalah para pemuda beriman yang mendapat hidayah dari Allah Swt. Menurut kebanyakan ahli tafsir, mereka adalah pengikut ajaran Nabi Isa a.s. Mereka hidup dibawah kekuasaan Raja yang musyrik dan diktator yang bernama Dikyanus.

Awalnya sesama pemuda ini tidak saling kenal dengan baik. Masing-masing merahasiakan keimanannya. Saat Raja Dikyanus semakin memaksakan kesyirikan dengan penyembahan berhala dan penyembelihan qurban untuk berhala maka ketika itulah sebagian pemuda ini bertemu dalam keimanan. Sikap para Pemuda Kahfi yang ahli tauhid ini belum tercium oleh kerajaan. Hal ini disebabkan sebagian dari mereka adalah dari kalangan keluarga kerajaan. Akan tetapi ketika dalam acara resmi kerajaan, semua harus sujud kepada Raja Dikyanus dan harus menyatakan penyembahan kepada dewa-dewa mereka. Saat itulah keimanan para pemuda ini terungkap. Mereka tidak bersedia patuh dan sujud kepada berhala. Sebagaimana Firman Allah Swt dalam surah Al-Kahfi ayat 14 :

Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”

Konsekuensi dari keteguhan iman ini harus mereka tanggung yaitu mengalami penangkapan dan penyiksaan. Mereka dipaksa untuk kembali kepada kesyirikan namun mereka menolak. Dengan izin Allah Swt, para pemuda ini berhasil kabur dan lolos dari tahanan Raja Dikyanus kemudian mereka kabur keluar kota dan mencari tempat paling aman untuk berlindung dari kejaran pasukan kerajaan. Waktu itulah mereka mendapat petunjuk dari Allah Swt sebagaimana yang tertera dalam surah Al-Kahfi ayat 16 :

Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.”

Maka berangkatlah mereka menuju sebuah gua diatas bukit. Mereka diikuti oleh seekor anjing bernama Qithmir milik salah seorang pengembala yang bergabung dengan para pemuda tersebut. Mereka semua memasuki gua dan bersembunyi di dalamnya. Sementara anjing Qithmir duduk berjaga di luar. Mereka masuk ke dalam gua di pagi hari sekali. Di dalam gua mereka berdo’a kepada Allah Swt :

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.” (QS Al-Kahfi : 10)

Tak lama kemudian, seiring dengan kelelahan merekapun langsung tertidur. Rupanya itulah rahmat Allah bagi mereka. 309 tahun lamanya mereka ditidurkan oleh Allah Swt :

Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun. (QS Al-Kahfi : 11)

Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (QS Al-Kahfi : 25)

Dalam rentang waktu 309 tahun ini, mereka bagaikan orang yang sedang tidur. Dalam setahun, tubuh mereka dibolak-balik oleh Allah Swt kekanan dan kekiri agar tidak rusak. Anjing mereka juga melonjorkan kedua kakinya diluar bagaikan sedang tidur.

Dalam jangka waktu yang sangat panjang itu, berbagai peristiwa telah terjadi di kerajaan tersebut. Pasang surut pertarungan antara ahlut tauhid dengan pengikut kesyirikan. Raja demi raja silih berganti. Sampai akhirnya sekitar lebih kurang 300 tahun kemudian, negeri itu dalam kondisi bertauhid semuanya. Raja dan rakyat beriman kepada Allah Swt. Namun ketika itu ada sebuah penyimpangan keyakinan disebagian masyarakat yaitu ada yang mulai tidak percaya akan adanya hari berbangkit. Meraka tak yakin orang yang mati akan hidup lagi.

Dalam suasana itulah Allah Swt menghidupkan (bangunkan) kembali Pemuda Kahfi yang sudah diklaim mati oleh masyarakat semenjak 3 abad yang lalu. Mereka dihidupkan kembali saat sore dalam bentuk semula. Tak ada yang berubah dari fisik maupun bentuk mereka. Sehingga mereka mengira baru tertidur sehari atau setengah hari. Allah Swt berfirman :

Demikianlah, Kami membangunkan mereka agar saling bertanya di antara mereka (sendiri). Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Mereka (yang lain lagi) berkata, “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka, utuslah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini. Hendaklah dia melihat manakah makanan yang lebih baik, lalu membawa sebagian makanan itu untukmu. Hendaklah pula dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali memberitahukan keadaanmu kepada siapa pun. (QS Al-Kahfi : 19)

Karena mereka merasa lapar, akhirnya mereka menyuruh salah seorang diantaranya untuk pergi ke kota diam-diam untuk membeli makanan. Begitu ia masuk kota yang rasanya baru tadi malam ditinggalkan, ia sangat kaget dan heran. Kota itu sangat berubah dan semuanya menjadi asing dan aneh. Tak ada lagi berhala dan semua orang disekitarnya sudah beriman. Tapi tak ada satupun yang ia kenal. Saat ia membayar makanan dengan mata uang yang dimiliki, disinilah orang-orang mencurigainya. Sebab mata uangnya sudah berusia ratusan tahun.

Ia pun kemudian ditangkap karena dicurigai mendapat harta terpendam dan kemudian dibawa ke hadapan pemimpin kota tersebut. Setelah panjang lebar berbicara, terungkaplah bahwa lelaki ini adalah manusia yang hilang 309 tahun lalu. Akhirnya pemimpin kota bersama seluruh masyarakat berduyun-duyun mengantar pemuda ini menuju gua untuk bertemu dengan teman-temanya termasuk anjingnya yang hidup kembali.

Rupanya pertemuan itu hanya pertemuan sekejap saja. Seluruh pemuda Kahfi masuk kembali ke dalam gua dan tiba-tiba mereka diwafatkan kembali oleh Allah Swt.

Demikian (pula) Kami perlihatkan (penduduk negeri) kepada mereka agar mengetahui bahwa janji Allah benar dan bahwa (kedatangan) hari Kiamat tidak ada keraguan padanya. (Hal itu terjadi) ketika mereka (penduduk negeri) berselisih tentang urusan (penghuni gua). Kemudian mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua itu). Tuhannya lebih mengetahui (keadaan) mereka (penghuni gua).” Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, “Kami pasti akan mendirikan sebuah masjid di atasnya.” (Q.S Al-Kahfi : 21)

Sumber : Kisah-Kisah Dakwah Dalam Al-Qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !