Thariq.sch.id- Ramadhan selalu identik dengan tilawah, ibadah dan doa-doa yang lembut dan syahdu di sepertiga malam. Tapi sejarah pernah mencatat kisah paling getir yang justru terjadi di bulan suci itu. Seorang penghafal Al-Qur’an, ahli ibadah, dengan sujud yang meninggalkan jejak hitam di dahi, justru menjadi tangan yang mengakhiri hidup khalifah mulia, Ali bin Abi Thalib. Namanya Abdurrahman bin Amr bin Muljam al-Muradi (Abdurrahman Bin Muljam). Lahir di masa jahiliyah, kemudian masuk Islam dan hijrah di era Khalifah Umar bin Khattab.
Sosok ini bukan orang sembarangan, Ia ikut dalam penaklukan Mesir bersama Amr bin al-As dan juga seorang hafiz Qur’an utuh dari awal hingga akhir. Ibadahnya juga luar biasa. Interaksinya dengan Al-Qur’an sangat intens, Tahajudnya tiap malam tanpa terlewat. Puasa sunahnya seperti kontrak tahunan nyaris tanpa jeda.
Bahkan Umar mengirimnya ke Mesir dengan surat rekomendasi penuh pujian. Ia pandai dalam mengajarkan Al-Qur’an dan mengajarkan fikih. Ketika Ali diangkat menjadi Khalifah, Ia juga berbaiat kepada Ali. Ia ikut dalam Perang Jamal dan Shiffin di barisan Ali. Setia dan Taat tanpa cela. Kalau ada lomba “aktivis paling militan”, mungkin ia akan duduk di barisan depan.
Lalu datanglah bab yang mengubah segalanya yaitu peristiwa tahkim setelah Perang Shiffin. Slogan “La hukma illa lillah!”, tiada hukum selain milik Allah, yang sejatinya kalimat tauhid, berubah menjadi palu godam ideologi.
Ali yang kemarin dipuji sebagai imam adil, tiba-tiba divonis kafir karena menerima arbitrase dengan Muawiyah.
Ibnu Muljam marah dan menebus rasa kecewanya dengan meloncat ke barisan Khawarij. Fanatisme menggantikan kebijaksanaan. Kawan-kawannya tewas dalam pertempuran Nahrawan (pertempuran antara Khalifah Ali melawan kelompok Khawarij). Menyulut dendamnya tak lagi sekadar bara, ia bergolak menjadi lahar.
Di Mekah, di musim haji, ia dan dua rekannya menyusun rencana pembunuhan serentak. Membunuh Ali di Kufah, Muawiyah di Damaskus, dan Amr bin al-As di Mesir. Mereka menyebutnya sebagai ibadah. Mereka menyebutnya ini adalah jihad membersihkan umat. Bayangkan, dengan level keyakinan itu mereka merasa sedang menjemput surga sambil menggenggam pedang beracun.
Kisahnya makin dramatis ketika ia jatuh cinta kepada seorang wanita bernama Qatham binti Syajnah, perempuan yang ayah dan saudaranya gugur di Nahrawan. Mahar yang dimintanya bukan main-main. Bukan hanya dirham dan budak. Tetapi kepala Ali bin Abi Thalib. Cinta membutakannya. Ibnu Muljam langsung setuju tanpa tawar-menawar. Pedang diasah. Racun dioleskan.
Subuh, 19 Ramadan 40 H, di Masjid Kufah, saat Ali memimpin salat. Dalam satu tebasan, sejarah Islam terbelah.
Darah mengalir di janggut sang khalifah. Namun Ali, dengan ketenangan yang hanya dimiliki jiwa besar, berkata: “Fuztu wa Rabbil Ka’bah.” Demi Tuhan Ka’bah, aku telah menang.
Dua hari kemudian, 21 Ramadan, beliau wafat. Imam gugur di mihrab. Dibunuh oleh penghafal Al-Qur’an.
Ironi.
Bumi pun terdiam dalam duka.
Ibnu Muljam ditangkap. Ali ra. dengan jiwa besar sempat berwasiat:
“Beri dia makan dan minum dari milikku. Jika aku selamat, biar aku yang menghukumnya. Jika aku wafat, qisaslah satu pukulan saja. Jangan lebih.” Bahkan di hadapan pembunuhnya, keadilan tetap harus tegak. Eksekusi dilakukan oleh Hasan bin Ali, satu tebasan, sesuai wasiat.
Di ujung kisahnya, Ibnu Muljam meminta supaya lidahnya tidak dipotong agar ia masih bisa membaca Al-Qur’an. Lidahnya fasih. Hafalannya utuh. Tapi Al-Qur’an tak pernah benar-benar turun ke hatinya. Di sinilah tamparan sejarah itu terasa keras.
Firman Allah Swt :
“Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (QS. An-Nisa: 49)
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm : 32)
Hafal bukan berarti paham. Paham bukan berarti bijak. Sujud lama bukan jaminan hati lembut. Yang paling berbahaya bukan pedang beracun. Yang paling berbahaya adalah keyakinan bahwa kitalah satu-satunya yang benar, sementara yang lain salah dan layak disingkirkan.
Ramadhan mengajarkan kita menahan diri. Tapi sejarah ini mengingatkan, menahan hawa nafsu itu bukan hanya soal lapar dan dahaga. Ia tentang menahan ego. Menahan fanatisme. Menahan hasrat menjadi “hakim Tuhan” di muka bumi
Baca : Hikmah Ramadan : Puasa Umat Terdahulu (Bagian 3), Nabi Idris a.s Berpuasa Dahr
Karena ketika ilmu dipelintir oleh kesombongan, ia berubah dari cahaya menjadi petir. Dan petir, kalau sudah menyambar, tak pilih-pilih siapa yang dibakar. Ramadhan ini, mungkin yang perlu kita khawatirkan bukan kurangnya hafalan, tetapi kurangnya kerendahan hati kita.
Wallahualam bishowab
Kontributor : Sri Maharani Candra Christina, S.Pd (Guru SMPIT TBZ Fullday)




