Thariq.sch.id- Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) resmi merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Penilaian berskala internasional yang digelar setiap tiga tahun sekali ini memotret kompetensi siswa berusia 15 tahun di berbagai negara.
Dibandingkan PISA 2022, capaian Indonesia pada periode 2025 menunjukkan dinamika yang beragam: skor sains dan literasi membaca mencatatkan kenaikan tipis, sementara skor matematika mengalami sedikit penurunan.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai kinerja PISA Indonesia tahun 2025 serta posisinya di kawasan regional maupun global.
1. Kinerja Rata-rata dan Peringkat Regional
Di tingkat regional (ASEAN), Indonesia masih berada di papan bawah — hanya unggul tipis dari Kamboja dan Filipina pada domain tertentu. Indonesia tertinggal jauh dari Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Thailand, dan Malaysia di ketiga disiplin utama.
Jika dibandingkan dengan rata-rata negara anggota OECD, posisi Indonesia masih mencatatkan kesenjangan yang cukup lebar:
| Domain Penilaian | Skor Indonesia | Rata-rata OECD | Selisih |
| Sains | 389 | 482 | -93 |
| Membaca (Literasi) | 365 | 461 | -96 |
| Matematika | 364 | 463 | -99 |
| Pemecahan Masalah Komputasional | 427 | 500 | -73 |
2. Tren Perubahan (2022–2025)
Meskipun masih di bawah standar global, pergerakan skor Indonesia dalam tiga tahun terakhir menyimpan beberapa catatan penting:
- Sinyal Positif di Sains & Membaca: Skor Sains naik +6 poin dan Membaca naik +7 poin dibanding PISA 2022. Kenaikan ini patut diapresiasi mengingat rata-rata OECD justru mengalami penurunan tajam (literasi membaca OECD turun hingga 14 poin).
- Penurunan Landai di Matematika: Skor Matematika Indonesia terkoreksi tipis sebesar -2 poin. Kendati demikian, koreksi ini relatif lebih landai jika dibandingkan penurunan skor negara tetangga seperti Singapura (-12 poin) dan Malaysia (-11 poin).
3. Tantangan Kualitas dan Ketimpangan Kinerja
Hasil PISA 2025 menyoroti masalah struktural yang masih membelenggu pendidikan nasional, yakni tingginya proporsi siswa berkinerja rendah (low performers) dan minimnya siswa berkinerja unggul (top performers).
- Domination Low Performers (60,9%): Sebanyak 60,9% siswa Indonesia berada di bawah Tingkat 2 (belum menguasai kemampuan dasar) di ketiga disiplin ilmu. Angka ini jauh di atas rata-rata OECD (19,7%) dan Singapura (6,8%).
- Minimnya Top Performers (0,1%): Hanya 0,1% siswa Indonesia yang berhasil mencapai Tingkat 5 atau 6. Sebagai pembanding, Singapura mencatatkan 42,3% top performers, sementara Vietnam berada di angka 4,2%.
4. Sorotan Khusus: Pemecahan Masalah Komputasional
Pada domain inovatif Computational Problem Solving, Indonesia mencatatkan skor 427. Walaupun masih berada di bawah rerata OECD (500), angka ini relatif jauh lebih baik dibandingkan pencapaian Indonesia pada literasi membaca (365) maupun matematika (364). Hal ini menunjukkan adanya potensi adaptasi logika berpikir komputasional yang cukup baik pada generasi muda Indonesia.
Berikut adalah PISA 2025 untuk Indonesia serta tabel perbandingannya dengan negara-negara ASEAN :

Baca : PISA 2025 Results (Volume I)
Sumber : OECD PISA 2025 Result




