Thariq.sch.id- Banyak di antara kita yang hingga kini masih memiliki pandangan bahwa Dolar Zimbabwe adalah mata uang dengan nilai terendah di dunia. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru jika kita merujuk pada kondisi beberapa tahun yang lalu.
Pada kisaran tahun 2008 hingga 2009, Zimbabwe memang sempat diguncang krisis ekonomi yang sangat hebat. Kala itu, tingkat hiperinflasi di negara tersebut menyentuh angka yang tidak masuk akal, yakni 5 miliar persen. Akibat ambruknya nilai tukar secara drastis, pemerintah Zimbabwe terpaksa memproduksi mata uang dengan nominal yang sangat fantastis, termasuk menerbitkan lembaran uang pecahan 100 triliun dolar.
Namun, situasi tersebut kini telah berubah. Melalui berbagai upaya pemulihan, pemerintah Zimbabwe secara agresif melakukan reformasi moneter. Langkah ini dimulai dari kebijakan redenominasi (pemotongan angka nol pada mata uang) hingga kebijakan teranyar mereka, yaitu merilis mata uang baru bernama ZiG (Zimbabwe Gold) yang nilainya dijamin oleh cadangan emas serta logam mulia negara tersebut. Langkah strategis ini berhasil menggeser Zimbabwe keluar dari daftar mata uang terbawah.
Di Mana Posisi Rupiah Sekarang?
Seiring dengan menguatnya mata uang baru Zimbabwe, perhatian publik kini tertuju pada mata uang domestik kita sendiri. Dengan dinamika ekonomi global saat ini, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan kekuatan pasar hingga sempat menyentuh angka Rp17.600 per Dolar AS.
Kondisi ini memicu sebuah pertanyaan besar: Apakah Rupiah Indonesia kini termasuk ke dalam jajaran mata uang terendah di dunia?
Berdasarkan data komparatif terbaru yang dirilis oleh Forbes Advisor, jawabannya adalah ya. Indonesia saat ini masuk ke dalam daftar 10 besar mata uang dengan nilai nominal terendah di dunia.
Berikut adalah daftar 10 mata uang terendah di dunia dihitung berdasarkan perbandingannya terhadap Dolar AS (USD) serta nilai konversinya yang disetarakan ke dalam Rupiah:
- Rial Iran (IRR) $1 US setara dengan kisaran 1.300.000 hingga 1.800.000 Rial. Iran menempati posisi pertama sebagai mata uang terlemah di dunia akibat akumulasi inflasi kronis dan sanksi ekonomi internasional yang berkepanjangan.
- Pound Lebanon (LBP) $1 US setara dengan sekitar 89.500 Pound Lebanon.
- Dong Vietnam (VND) $1 US setara dengan sekitar 26.000 Dong Vietnam.
- Leone Sierra Leone (SLL) $1 US setara dengan sekitar 22.000 SLL.
- Kip Laos (LAK) $1 US setara dengan sekitar 21.000 Kip Laos.
- Rupiah Indonesia (IDR) $1 US setara dengan kisaran Rp17.000 hingga Rp17.500 (mengalami fluktuasi dinamis dan sempat menyentuh Rp17.600). Rupiah berada di urutan ke-6 terendah di dunia.
- Som Uzbekistan (UZS) $1 US setara dengan sekitar 12.000 Som Uzbekistan.
- Franc Guinea (GNF) $1 US setara dengan sekitar 8.700 Franc Guinea.
- Guarani Paraguay (PYG) $1 US setara dengan sekitar 6.000 Guarani Paraguay.
- Ariary Madagaskar (MGA) $1 US setara dengan sekitar 4.100 Ariary Madagaskar.
Kesimpulan
Data di atas menunjukkan bahwa posisi Dolar Zimbabwe sebagai mata uang terlemah di dunia secara resmi telah digantikan oleh Rial Iran. Sementara itu, Rupiah Indonesia secara nominal berada di peringkat ke-6 dalam jajaran mata uang terendah di dunia.
Kendati angka nominal Rupiah terhadap Dolar AS terlihat besar, para ahli ekonomi sering kali mengingatkan bahwa nilai nominal yang rendah tidak selalu mencerminkan bahwa kondisi ekonomi negara tersebut sedang hancur. Faktor historis masa lalu terkait jumlah uang beredar (JUB) serta kebijakan moneter global memiliki andil besar dalam membentuk angka-angka tersebut.
Namun demikian nilai tukar rupiah yang cenderung terus turun terhadap Dolar AS perlu disikapi serius oleh pemerintah. Karena beberapa kondisi yang terjadi saat ini sangat membebani rupiah. “Jika tidak segera diambil tindakan, bukan tidak mungkin rupiah akan menyentuh angka Rp 22.000- Rp 25.000 / Dolar AS ujar Prof Ferry Latuhihin (Pakar Ekonomi). Beberapa kondisi tersebut yaitu : harga minyak yang terus naik, badai PHK yang sudah di depan mata, defisit fiskal yang makin tidak terkendali salah satunya karena program MBG, El-Nino yang masuk bulan Juli-Agustus akan memicu krisis pangan karena Indonesia masih impor bahan pangan.
Sumber : Forber Advisor




