Thariq.sch.id-Jalan kaki merupakan salah satu aktivitas fisik yang bermanfaat bagi kesehatan. Manfaat ini tidak hanya bagi fisik namun juga psikologi dari individu yang melakukannya. Beberapa manfaat jalan kaki bagi kesehatan fisik yaitu menjaga kesehatan jantung, mengontrol berat badan, mencegah diabetes, menguatkan tulang dan daya tahan tubuh. Orang yang rutin jalan kaki minimal 30 menit juga dapat berpengaruh pada berkurangnya tingkat stress, meningkatkan kualitas tidur, dan mendukung fungsi otak.
Sebuah penelitian berskala besar yang dipublikasikan dalam jurnal Nature oleh para peneliti dari Stanford University mengungkapkan pola aktivitas fisik masyarakat dunia secara mendalam. Berdasarkan pelacakan akselerometer pada smartphone milik 717.527 pengguna di 111 negara selama total 68 juta hari, penelitian ini memetakan dinamika langkah kaki harian serta dampaknya terhadap kesehatan publik.
Secara rata-rata global, pengguna smartphone mencatat sebanyak 4.961 langkah per hari. Namun, volume langkah kaki harian ini bervariasi secara signifikan antarnegara maupun di dalam populasi suatu negara itu sendiri.
Peringkat Negara dengan Rata-Rata Langkah Kaki Terbanyak di Dunia
Dari 46 negara yang dianalisis secara mendalam (memiliki sampel minimal 1.000 pengguna aktif), wilayah Asia Timur dan Eropa mendominasi posisi teratas sebagai masyarakat paling rajin berjalan kaki. Berikut adalah 10 negara/wilayah dengan rata-rata langkah kaki harian terbanyak di dunia:
- Hong Kong SAR: 6.880 langkah/hari
- Tiongkok (China): 6.189 langkah/hari
- Ukraina: 6.107 langkah/hari
- Jepang: 6.010 langkah/hari
- Rusia: 5.969 langkah/hari
- Spanyol: 5.936 langkah/hari
- Swedia: 5.863 langkah/hari
- Korea Selatan: 5.755 langkah/hari
- Singapura: 5.674 langkah/hari
- Swiss: 5.512 langkah/hari
Posisi Indonesia: Di Dunia dan di Asia
Berdasarkan data penelitian tersebut, Indonesia berada pada posisi yang sangat rendah dalam hal aktivitas berjalan kaki harian.
- Posisi Indonesia di Dunia: Indonesia menempati peringkat ke-46 dari 46 negara yang dianalisis secara mendalam, dengan rata-rata 3.513 langkah per hari. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata global (4.961 langkah).
- Posisi Indonesia di Asia: Di kawasan Asia (termasuk Timur Tengah) yang mencakup 16 negara dalam sampel utama ini, Indonesia berada di peringkat ke-16 dari 16 negara.
Peringkat Negara-Negara Asia dalam Studi:
- Hong Kong SAR: 6.880 langkah
- Tiongkok: 6.189 langkah
- Jepang: 6.010 langkah
- Korea Selatan: 5.755 langkah
- Singapura: 5.674 langkah
- Turki: 5.057 langkah
- Israel: 5.033 langkah
- Taiwan: 5.000 langkah
- Thailand: 4.764 langkah
- Uni Emirat Arab: 4.516 langkah
- India: 4.297 langkah
- Qatar: 4.158 langkah
- Filipina: 4.008 langkah
- Malaysia: 3.963 langkah
- Arab Saudi: 3.807 langkah
- Indonesia: 3.513 langkah
Temuan Kunci: Kesenjangan Aktivitas (Activity Inequality) dan Obesitas
Temuan paling penting dari studi Stanford ini bukan sekadar berapa banyak rata-rata langkah suatu negara, melainkan konsep Kesenjangan Aktivitas (Activity Inequality). Kesenjangan aktivitas diukur menggunakan Koefisien Gini pada distribusi langkah harian penduduk.
- Prediktor Obesitas yang Lebih Kuat: Kesenjangan aktivitas di suatu negara terbukti menjadi prediktor prevalensi obesitas yang jauh lebih akurat ($R^2 = 0,64$) dibandingkan dengan rata-rata jumlah langkah kaki saja ($R^2 = 0,47$).
- Dampak terhadap Perempuan: Di negara-negara dengan kesenjangan aktivitas tinggi, penurunan aktivitas fisik terjadi secara tidak proporsional pada kelompok perempuan. Perbedaan aktivitas antar-gender ini menyumbang sekitar 43% dari total kesenjangan aktivitas nasional.
- Peran Infrastruktur Kota (Walkability): Kota-kota dengan skor ramah pejalan kaki (walkability) yang tinggi menunjukkan tingkat kesenjangan aktivitas yang lebih rendah dan rata-rata langkah yang lebih tinggi di semua kelompok umur, gender, dan indeks massa tubuh (BMI).
Rendahnya rata-rata langkah harian di Indonesia (3.513 langkah) serta kesenjangan aktivitas sebesar 0,283 mencerminkan perlunya perhatian pada pembangunan infrastruktur perkotaan yang lebih ramah pejalan kaki (walkable cities), ketersediaan trotoar yang aman, serta promosi gaya hidup aktif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sumber : Stanford University Journal




