Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Bidang Pendidikan

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- KECERDASAN Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin akrab dalam kehidupan kita. Hampir setiap hari masyarakat berinteraksi dengan teknologi berbasis Al baik saat menggunakan media sosial seperti WhatsApp, menulis dengan bantuan ChatGPT, maupun membuat video dan konten digital. Tanpa kita sadari, AI sudah menjadi bagian dari hampir semua aktivitas.

Dalam dunia pendidikan kehadiran AI juga tidak bisa dihindari. Karena itu, tenaga pendidik baik dosen maupun guru, perlu memahami dengan baik apa itu AI dan bagaimana memanfaatkannya secara tepat. Dengan pemahaman yang benar, pendidik tidak hanya bisa mengintegrasikan AI dalam proses belajar mengajar, tetapi juga membimbing peserta didik agar menggunakan teknologi ini dengan bijak dan bertanggung jawab.

Pada tahun 2024, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menerbitkan panduan penggunaan Generative Artificial Intelligence (Gen AI) dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Panduan ini penting dibaca bukan hanya oleh dosen dan mahasiswa, tetapi juga oleh guru dan siswa di tingkat sekolah. Tujuannya agar AI benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pembelajaran dan membantu peserta didik memahami sejauh mana teknologi ini dapat digunakan secara etis dan efektif dalam pendidikan.

AI bekerja berdasarkan data dan informasi. Untuk penggunaan umum, data yang digunakan aplikasi AI biasanya diambil dari internet. Karena itu, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya di dunia pendidikan. Pertama, Al dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna. Guru dan siswa kini bisa mencari informasi dengan cepat, menyusun bahan ajar menjadi lebih efisien, hingga meningkatkan produktivitas belajar. Aplikasi seperti Google Gemini, Perplexity AI, dan Microsoft Copilot memudahkan pencarian informasi sedangkan Speechify dan Mindgrasp membantu merangkum bacaan dengan cepat. Kemampuan mengoperasikan berbagai aplikasi seperti ini perlu terus diasah agar manfaatnya bisa dirasakan secara maksimal. Meskipun sebagian aplikasi hanya tersedia dalam versi berbayar. Lembaga pendidikan dapat mencari solusi agar aksesnya tetap terbuka bagi banyak orang.

Kedua, penting diingat bahwa AI belum bisa sepenuhnya diandalkan untuk menghasilkan informasi yang akurat. Teks atau data yang dibuat oleh AI sebaiknya selalu dan di validasi sebelum digunakan. Mahasiswa dan siswa perlu memahami bahwa hasil dari Al tidak bisa diterima mentah-mentah tanpa proses verifikasi. Dalam hal ini, peran pendidik menjadi sangat penting. Beberapa contoh di tingkat global menunjukkan perlunya kehati-hatian ini. Perusahaan Deloitte, misalnya, terpaksa mengembalikan dana proyek lebih dari AUD 400 juta kepada Pemerintah Australia karena laporan yang mereka buat mengandung teks tidak valid hasil dari aplikasi Al.

Di kasus lain, sebuah artikel ilmiah dikritik keras karena sebagian isinya ternyata berasal dari AI tanpa validasi penulis. Pihak penerbit pun ikut disorot karena meloloskan naskah tersebut ke jurnal ilmiah. Ketiga, metode pembelajaran dan sistem evaluasi juga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Tujuan utama pendidikan tetap sama, yaitu membentuk pengetahuan, keterampilan, dan karakter peserta didik. Namun cara mencapainya harus berubah seiring perkembangan zaman. Banyak lembaga pendidikan dunia termasuk di Amerika, Australia, dan Eropa mulai membahas bentuk evaluasi baru yang relevan di era AI. Ketika mahasiswa atau siswa sudah terbiasa menggunakan AI, ujian tertulis konvensional mungkin tidak lagi cukup. Sebagai gantinya dosen dan guru dapat menggunakan ujian lisan, diskusi terbuka, atau presentasi yang lebih menilai kemampuan berpikir kritis dan pemahaman mendalam.

Keempat, penguasaan AI kini menjadi kebutuhan dasar di dunia modern. Jika tenaga pendidik tidak membimbing mahasiswa dan siswa untuk memahami serta memanfaatkan AI dengan baik, generasi muda akan kesulitan beradaptasi di masa depan yang penuh inovasi berbasis kecerdasan buatan. Pendidikan seharusnya mampu menyiapkan generasi yang bukan hanya pengguna, tetapi juga pencipta solusi berbasis teknologi. Karena itu, pendidik perlu mengenali potensi anak didik dalam bidang sains dan teknologi, lalu memberi arahan agar mereka mampu menguasai AI dengan baik.

Terakhir, kita perlu menjaga integitas akademik Ini menjadi tantangan baru di era digital. Dosen, guru, mahasiswa, dan siswa harus berhati -hati dalam menggunakan Al untuk menulisa atau membuat karya.
Setiap orang perlu jujur jika karyanya dibantu oleh aplikasi AI. Sebaliknya, seseorang juga harus berani menolak namanya dicantumkan sebagai penulis atau pencipta jika tidak punya kontribusi nyata atau jika karya tersebut sepenuhnya dibuat oleh AI. Kejujuran dan etika menjadi fondasi penting agar kemajuan teknologi tidak mengikis nilai-nilai akademik.

Dunia terus berubah, dan Al akan menjadi bagian besar dari masa depan. Dunia pendidikan harus mampu bergerak cepat dan adaptif. Jika digunakan dengan benar, AI bukanlah ancaman, melainkan peluang besar untuk melahirkan generasi yang lebih cerdas, kreatif, dan siap menghadapi tantangan global.

Sumber : Ikhwana Elfitri (Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !