Kemuliaan Birrul Walidain: Fondasi Akhlak dan Berkah dalam Islam

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Sahabat thariq yang diberkahi Allah Swt dahulu sebelum datangnya Islam, dunia diliputi oleh kegelapan moral dan ketidakadilan terutama dalam tatanan keluarga dan sosial. Di berbagai peradaban, termasuk peradaban Arab jahiliyah, perempuan dan anak-anak kerap menjadi korban kesewenang-wenangan. Kisah pilu tentang bagaimana kelahiran seorang anak perempuan dianggap aib hingga mendorong praktik penguburan hidup-hidup terekam jelas dalam firman Allah Swt (QS. An-Nahl: 58-59)

وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌۚ ۝٥٨ يَتَوٰرٰى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْۤءِ مَا بُشِّرَ بِهٖۗ اَيُمْسِكُهٗ عَلٰى هُوْنٍ اَمْ يَدُسُّهٗ فِى التُّرَابِۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ ۝٥٩

(Padahal,) apabila salah seorang dari mereka diberi kabar tentang (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah (sedih dan malu). Dia bersembunyi dari orang banyak karena kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah, alangkah buruk (putusan) yang mereka tetapkan itu!

Tak hanya di Arab, peradaban Persia dan Romawi pun memiliki catatan kelam. Pernikahan sedarah, ajaran sesat yang menghalalkan perampasan harta dan pelecehan wanita, hingga praktik amoral para kaisar, menunjukkan betapa rusaknya moralitas manusia tanpa bimbingan ilahi. Di tengah kegelapan itulah, Islam hadir sebagai cahaya yang membawa perbaikan fundamental.

Islam: Revolusi Moral dan Penjaga Keluarga

Islam datang bukan hanya sekadar agama, melainkan sebuah revolusi akhlak yang menyentuh inti tatanan sosial. Salah satu pilar utamanya adalah pengangkatan derajat orang tua. Jika sebelumnya orang tua, terutama ibu, seringkali terpinggirkan, Islam menempatkan mereka pada posisi yang sangat mulia, wajib dihormati, disayangi, dan ditaati. Konsep “Birrul Walidain” (berbakti kepada kedua orang tua) bukanlah sekadar anjuran, melainkan kewajiban yang sangat ditekankan.

Allah Swt berulang kali menegaskan perintah ini dalam Al-Qur’an, tidak kurang dari 14 ayat membahas tentang pentingnya berbakti. Rasulullah Saw pun bersabda bahwa durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar yang setara dengan menyekutukan Allah Swt, membunuh, dan bersaksi palsu. Ini menunjukkan betapa krusialnya Birrul Walidain dalam pandangan Islam.

Wujud Nyata Birrul Walidain

Lalu, bagaimana kita mewujudkan bakti kepada kedua orang tua dalam kehidupan sehari-hari?

  1. Hormat, Sayang, dan Bangga: Senantiasa menghormati, menyayangi, menghargai, dan menaruh rasa bangga kepada mereka.
  2. Jaga Hati dan Perasaan: Menghindari segala perkataan atau perbuatan yang dapat menyakiti hati, membenci, apalagi merendahkan mereka.
  3. Sabar dalam Perbedaan: Menjaga hubungan baik, bersabar, dan tetap menaruh hormat meskipun ada perbedaan pandangan atau jalan pikiran.
  4. Mencari Ridha Mereka: Melakukan segala sesuatu yang membuat mereka senang dan ridha, karena ridha Allah terletak pada ridha orang tua.

Bakti ini juga memiliki dimensi praktis. Memberi nafkah, menyediakan pakaian, tempat berlindung, memberi perlindungan, mengobati saat sakit, melunasi utang-utang mereka, mensholatkan jenazah, memenuhi wasiat, dan tak henti-hentinya mendoakan mereka adalah sebagian dari wujud konkret Birrul Walidain.

Mengapa Islam begitu menekankan Birrul Walidain? Karena keutamaan dan berkahnya sangatlah besar:

  • Amalan Paling Dicintai Allah: Setelah sholat, berbakti kepada orang tua adalah amalan yang paling dicintai Allah Swt.
  • Kunci Surga: Berbakti kepada orang tua adalah salah satu jalan termudah menuju surga.
  • Doa Mustajab: Doa anak yang berbakti kepada orang tuanya adalah doa yang sangat mudah dikabulkan oleh Allah.
  • Turunnya Rahmat: Bakti kepada orang tua menjadi penyebab turunnya rahmat dan kasih sayang Allah Swt.
  • Penebus Dosa: Bahkan, ia bisa menjadi kafarat (penebus) bagi dosa-dosa besar seorang anak.
  • Limpahan Berkah: Orang yang berbakti akan senantiasa mendapatkan limpahan berkah dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Adab Menghadapi Perbedaan

Tidak jarang, anak dan orang tua memiliki pandangan yang berbeda. Dalam situasi ini, Islam mengajarkan adab yang mulia:

  • Kedepankan Kesabaran: Hadapi perbedaan dengan kesabaran dan kelembutan.
  • Dahulukan Kepentingan Mereka: Selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama, dahulukan kepentingan dan keinginan orang tua.
  • Jaga Bahasa Tubuh: Tunjukkan sikap hormat melalui bahasa tubuh yang santun.
  • Komunikasi yang Baik: Jika harus berbicara untuk menyampaikan pendapat, pastikan dengan tutur kata yang sopan, tidak kasar, jelas, dan ringkas.

Singkatnya, Birrul Walidain adalah jembatan emas menuju ridha Allah dan kunci keberkahan hidup. Ia adalah cerminan akhlak mulia yang diajarkan Islam, membangun fondasi keluarga yang kuat, penuh kasih sayang, dan dirahmati. Mari kita terus berusaha menjadi anak yang berbakti, karena di sanalah terletak kemuliaan sejati.

Sumber : Tulisan (alm) Ust. M. Ma’mun Salman, M.Pd.I (Guru Al-Qur’an LPIT TBZ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !