Thariq.sch.id- Sahabat thariq yang dirahmati Allah Swt, Imam Syafi’i adalah salah satu dari empat imam Mazhab yang menjadi rujukan bagi umat muslim dunia. Beliau masih tergolong kerabat Rasulullah Saw yang lahir di Gaza, Palestina. Dari banyak literatur, kita melihat bahwa Imam Syafi’i adalah seseorang yang memiliki ilmu yang sangat luas. Hal ini terkonfirmasi dari daya juangnya dalam menuntut ilmu serta penghormatannya kepada para guru.
Keteladanan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu, sudah selayaknya menjadi contoh bagi para penuntut ilmu. Pengorbanan menempuh perjalanan jauh mencari guru ke pelbagai pelosok bumi, kesulitan hidup dan sakitnya yang berat di akhir hayatnya, sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar dan berbagi.
Berbekal perjuangan panjangnya, Imam Syafi’i memberi wasiat kepada para penuntut ilmu:
أَخي لَن تَنالَ العِلمَ إِلّا بِسِتَّةٍ سَأُنبيكَ عَن تَفصيلِها بِبَيانِ ذَكاءٌ وَحِرصٌ وَاِجتِهادٌ وَبُلغَةٌ وَصُحبَةُ أُستاذٍ وَطولُ زَمانِ
“Saudaraku, kalian tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya, yaitu: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) bersungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan para ulama, dan (6) panjangnya masa.”
Beliau menyampaikan 6 perkara yang menakjubkan ini, untuk kita jaga dan penuhi, sebagai syarat untuk mendapat kebaikan ilmu.
1. KECERDASAN
Cerdas bukan hanya soal IQ yang tinggi. Namun cerdas juga dapat dimaknai pandai menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak ilmu dan menjaga diri dari maksiat.
Saat Imam Syafi’i pertama kali bertemu Imam Malik, Sang Guru berpesan,
“Wahai anak muda, aku melihat di dalam hatimu ada cahaya. Maka janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan bermaksiat kepada Allah. Karena bermaksiat kepada Allah pertanda berkurangnya kecerdasan.”
Orang cerdas tahu haknya Allah, tahu kedudukan Allah. Orang yang jatuh ke dalam kemaksiatan berarti ia sedang tidak cerdas. Karena ilmunya Allah adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang durhaka kepada Allah.
2. SEMANGAT TINGGI
Seorang penuntut ilmu harus memiliki ambisi yang tinggi karena digerakkan oleh cita-cita yang mulia. Semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu hendaknya menjadi karakter dari seorang muslim.
Imam Bukhari berkelana menuntut ilmu dari negerinya Bukhara (Uzbekistan) mengembara hingga ke Baghdad, kemudian ke Kuffah, Bashrah, Madinah, Mekah, Mesir, Damaskus, Baghdad, bahkan sampai ke Negeri Syam. Semangat yang tinggi menghantarkan beliau mendatangi aseluruh penjuru bumi di mana masih terdapat kaum tabiin untuk dijadikan rujukan, guru, sekaligus sebagai sumber asli dari periwayatan hadis
Dari 1.000.000 hadist yang dikumpulkan dan dihafalkan oleh Imam Bukhari. Hanya 7.000 saja yang beliau tuliskan dalam kitab Shahihnya. Sisanya terpaksa beliau gugurkan karenanya tidak memenuhi standar kesahihan beliau yang tinggi. Imam Bukhari dikenal dengan kehati-hatian dan ketelitian yang luar biasa. Bisa dibayangkan kesungguhannya dalam belajar melalang buana ke berbagai negeri walau akhirnya lebih banyak hadits yang terpaksa beliau hapus daripada yang dicatatnya.
3. MENDISIPLINKAN DIRI
Berarti mampu memaksa diri untuk terus konsisten, tekun, menelaah, dan melakukan proses keilmuan.
Kedisiplinannya dalam belajar, menjadikan Imam Nawawi, tidak merelakan sedetik pun waktunya terlewat tanpa belajar dan berkarya. Sampai ketika waktu makan ia pernah meminta orang lain menyuapinya, agar ia tetap bisa membaca dan menulis. Bahkan ketika harus ke toilet pun, ia meminta muridnya untuk membacakan buku dari luar supaya tetap bisa mendengarkan ilmu.
Kecintaannya pada Ilmu membuat Imam Syafi’i memaksakan diri untuk terus belajar dan mengajar tanpa pernah libur hingga akhir hayatnya. Dalam keadaan sakit keras (wasir yang parah) yang menyebabkan darahnya terus mengucur ia terpaksa duduk di atas baskom yang diberi palang kayu supaya darahnya tidak mengotori masjid saat mengajar.
Di tengah-tengah kesibukannya sebagai hakim sekaligus mufti yang melayani masyarakat setiap hari, menjadi mubaligh dan juga pengajaR, Al Imam Ibnu Jauzi tetap mendisiplinkan dirinya untuk menulis kitabnya tidak kurang dari 40 halaman setiap hari. Bahkan beliau pun masih sempat mengantarkan lebih 120.000 orang untuk bertaubat dan mengislamkan 30.000 ahli kitab Yahudi dan Nasrani untuk bersyahadat di tangan beliau.
Inilah I’tibar yang luar biasa dari kaum tabiin dalam menuntut ilmu, menempuh jalan cahaya.
4. BIAYA DAN PENGORBANAN
Biaya tidak dimaksud pada jumlah dana yang dikeluarkan saja, tapi juga soal bagaimana seseorang memprioritaskan dana yang dimilikinya. Di peringkat berapa biaya belajar diposisikan dibandingkan kebutuhan lainnya.
Imam Syafi’i terlahir sebagai anak yatim dari keluarga yang fakir. Ibunya tidak mampu membiayai pendidikannya. Sehingga ia hanya berdiri mondar-mandir di luar majelis ilmu. Ia ikut mendengarkan dan mempelajari ilmu dari balik pintu.
Dalam satu kesempatan ia berkata, “andai aku memiliki uang, aku lebih suka membeli kertas dan tinta, dan jika ada sisa, barulah kuberikan makanan.” Makanan adalah prioritas kedua bagi Imam Syafi’i di tengah kemiskinan dan lapar yang mendera, dibanding memenuhi fasilitas belajarnya.
Orang tua Rabiah Ar Rayi merelakan simpanan ghanimahnya senilai 30.000 dinar (lebih dari 200 milyar rupiah) untuk pendidikan putranya, hingga sang putra menjadi ulama besar dan guru bagi Imam Malik bin Anas.
Imam Adz Dzahabi yang hidup di abad ke-13 pernah menyampaikan, harga 1 copy kitab Shahih Bukhari adalah 1000 dinar (1 dinar = 4,25 gr emas). Maka dapat dihitung sendiri berapa rupiah harga kitab Shahih Bukhari dan betapa mahalnya biaya pendidikan pada masa itu. Ironi di masa ini, ketika semua sudah lebih terjangkau, masih banyak orang yang tidak merelakan sebagian besar hartanya diinvestasikan untuk pendidikan dibanding memenuhi kebutuhan duniawinya.
5. DEKAT DENGAN GURU (ORANG BERILMU)
Akrab dengan guru dengan tetap menjaga adab. Karena berkahnya ilmu Allah turunkan dari adabnya kita pada guru.
6. PANJANGNYA MASA
Karena belajar tidak bisa instan, butuh kesabaran dan ketekunan dalam menikmati prosesnya. Diperlukan waktu yang panjang untuk terus belajar.
Imam Ibnu Mandah mengadakan perjalanan selama 40 tahun untuk menuntut ilmu ke berbagai negeri, sebelum akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya. Ia belajar pada 1.700 guru dan mengajar lebih dari 13.000 murid. Panjangnya masa yang dihabiskannya, membuat Ia baru sempat menikah saat usianya sudah lebih dari 60 tahun.
Inilah kisah-kisah agung dari para penuntut ilmu yang selalu sabar, konsisten dan disiplin dalam belajar. Sebuah pelajaran abadi yang menakjubkan. Tetaplah belajar. Karena ketika kita belajar, kita sedang mendekatkan diri pada Allah. Setiap lembaran buku yang kita baca adalah sebab untuk lebih mengenal-Nya.
”Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya Kebodohan.”.
(Imam Syafi’i)
Ditulis oleh : Sri Maharani Candra C. S.Pd (guru SMPIT TBZ)




