Thariq.sch.id- Setiap hari, sejak kita pertama kali bisa berbicara hingga detik ini, pernahkah kita merenung sejenak? Berapa banyak kata yang telah meluncur dari lisan kita? Berapa kalimat yang telah kita goreskan melalui tulisan? Jika dihitung, jumlahnya mungkin mencapai jutaan, puluhan juta, atau bahkan miliaran kata. Sebuah angka yang tak pernah kita catat dan mungkin tak akan pernah bisa kita hitung.
Kita mungkin melupakannya seiring berjalannya waktu. Namun, sadarkah kita bahwa ada yang tak pernah lupa? Ada yang tak pernah luput mencatatnya. Setiap kata, baik yang terucap di tengah keramaian maupun yang terbisik dalam kesunyian, semuanya tercatat dengan sempurna. Allah Swt. berfirman:
“Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf [50]: 18)
Ayat ini menjadi pengingat agung bahwa setiap kata memiliki bobot dan akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang terlewat.
Empat Hal yang Tak Bisa Kembali
Sebuah pepatah bijak sering kita dengar, bahwa ada empat hal yang tidak akan pernah bisa kembali:
- Waktu yang sudah berlalu.
- Kesempatan yang sudah hilang.
- Batu yang telah dilontarkan.
- Kata yang telah diucapkan.
Sekali sebuah kata terucap, ia akan meninggalkan jejak. Jika baik, ia akan menjadi penyejuk. Namun jika buruk, ia bisa menjadi luka yang sulit terobati. Oleh karena itu, berpikir sebelum berbicara adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. Allah Swt. secara tegas memperingatkan hamba-Nya untuk senantiasa memilih perkataan yang baik, karena ucapan yang buruk adalah celah bagi setan untuk memecah belah.
“Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra’ [17]: 53)
Jika Berkata, Maka Berkatalah yang Baik
Lisan adalah amanah yang luar biasa. Ia bisa menjadi sumber pahala yang mengalir deras, tetapi juga bisa menjadi penyebab tergelincirnya seseorang ke dalam jurang kebinasaan. Islam telah menggariskan tugas-tugas mulia bagi lisan, di antaranya:
- Menggunakannya untuk berdakwah kepada kebaikan.
- Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
- Mendamaikan persengketaan antar sesama.
- Mengajak manusia kepada ketakwaan.
Bahkan, sebuah ucapan yang baik dinilai sebagai sedekah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:
“Kalimat (ucapan) yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lantas, bagaimana jika kita tidak mampu atau tidak menemukan kata-kata yang baik untuk diucapkan? Rasulullah Saw. telah memberikan solusi terbaiknya: diam.
“Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diam dalam konteks ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud keimanan dan kebijaksanaan. Diam adalah benteng yang melindungi diri dari tergelincirnya lisan kepada perkataan yang sia-sia, menyakitkan, atau bahkan mendatangkan murka Allah.
Cermin Iman dan Akhlak Bangsa
Dampak dari lisan yang tidak terjaga dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa waktu lalu, kita melihat bagaimana perkataan dan tingkah laku yang tidak baik dari beberapa figur publik atau wakil rakyat dapat memicu kemarahan masyarakat, menciptakan kegaduhan, bahkan kerusakan. Kejadian ini seharusnya menjadi pelajaran berharga, terutama bagi mereka yang memegang amanah atau dianggap sebagai tokoh masyarakat.
Lidah adalah cerminan hati, dan hati adalah cerminan iman. Keduanya saling terhubung dalam sebuah rantai yang tak terpisahkan. Rasulullah Saw. bersabda:
“Iman seorang hamba tidak akan istiqamah (lurus) hingga hatinya istiqamah, dan hatinya tidak akan istiqamah hingga lidahnya istiqamah.”
Pada akhirnya, menjaga lisan adalah perjuangan seumur hidup. Ini adalah tentang menyadari bahwa setiap kata adalah benih yang kita tanam. Apakah kita ingin ia tumbuh menjadi pohon kebaikan yang meneduhkan, atau menjadi semak duri yang melukai? Pilihan ada di tangan kita. Marilah kita mulai menimbang setiap kata, karena jejaknya abadi dan pertanggungjawabannya menanti.
Sumber : Tulisan (alm) Ust Ma’mun Salman, M.Pd.I (Alumni Guru Al-Qur’an LPIT TBZ)




