Thariq.sch.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi teknologi dan proses pangan berbasis sumber daya laut untuk mendukung ketahanan pangan, mengurangi limbah perikanan, serta meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Peluang riset tersebut dibahas dalam Webinar Ngaji Teknologi dan Proses Pangan (NgajiTek) Seri ke-26 bertema “Inovasi Berkelanjutan Sumber Daya Laut untuk Pangan: Edible Polimer, Produk Pangan, dan Ekonomi Sirkular” yang diselenggarakan Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN secara daring pada Selasa (20/10).
Peneliti PRTPP BRIN, Bakti Berlyanto Sedayu, memaparkan potensi kitosan dan alginat dari sumber daya laut untuk pengembangan kemasan aktif dan edible film. “Polimer dari sumber daya laut, seperti kitosan dan alginat, berpotensi dikembangkan menjadi kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan. Selain melindungi produk, kemasan aktif dapat membawa komponen tertentu untuk membantu menjaga mutu dan keamanan pangan. Pengembangannya tetap memerlukan pengujian karakteristik material dan keamanan kontak pangan,” paparnya.
Peneliti PRTPP BRIN, Christina Litaay, membahas pengembangan mi berbahan dasar sagu yang diperkaya tepung ikan teri. “Pengembangan mi sagu dengan penambahan tepung ikan teri dikaji melalui karakteristik fisik, kimia, dan sensori, termasuk kandungan protein, mineral, serta penerimaannya oleh anak-anak. Inovasi ini berpotensi memperluas pemanfaatan pangan lokal sekaligus meningkatkan nilai gizi produk,” ungkap Christina.
Sementara itu, Guru Besar Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Mala Nurilmala, menjelaskan peluang pemanfaatan hasil samping perikanan sebagai bahan bernilai tambah. “Bagian ikan yang belum dimanfaatkan secara optimal, seperti kulit, tulang, sisik, dan gelembung renang, berpotensi menjadi sumber kolagen, gelatin, dan turunannya untuk berbagai aplikasi, termasuk pangan. Pemanfaatannya perlu disertai pengujian mutu, keamanan, kandungan logam berat, dan potensi alergen,” jelas Mala.
Di sisi lain, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, menekankan pentingnya kolaborasi untuk menghasilkan riset yang berdampak dan menjawab persoalan nyata. “Riset perlu diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang berdampak dan menjadi solusi atas persoalan nyata, mulai dari pengelolaan hasil laut hingga pemanfaatannya menjadi produk pangan. Karena itu, kolaborasi tidak hanya diperlukan dengan mitra eksternal, tetapi juga lintas organisasi riset dan pusat riset di BRIN agar berbagai keahlian dapat saling melengkapi,” ujar Puji.
Ia juga menyoroti potensi biodiversitas laut Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus menjawab tantangan penggunaan kemasan plastik sintetis dan limbah pangan.
Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Satriyo Krido Wahono, menjelaskan bahwa sumber daya laut berpotensi mendukung empat program strategis riset PRTPP BRIN, yaitu pengembangan pangan fungsional, teknologi pengawetan dan pengemasan, kehalalan dan mutu pangan melalui substitusi bahan nonhalal, serta pengembangan pangan berprotein tinggi untuk mendukung penanganan stunting.
“Potensi sumber daya laut Indonesia dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan kemasan ramah lingkungan, produk pangan fungsional, dan bahan alternatif untuk pengembangan produk pangan halal. Selain itu, komoditas laut, seperti ikan, juga dapat dikembangkan sebagai sumber protein untuk mendukung penyediaan pangan bergizi,” ujar Satriyo.
Melalui NgajiTek Seri ke-26, BRIN mendorong kolaborasi peneliti, perguruan tinggi, dan industri untuk membawa hasil riset menuju prototipe, validasi, dan pemanfaatan lebih luas. Upaya ini diharapkan mendukung pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan, mengurangi limbah, meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan, serta menghasilkan inovasi pangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sumber : Laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)




