Thariq.sch.id- Beberapa hari belakangan ini, surah Ad-Dhuha menjadi pembicaraan banyak orang dan menjadi viral setelah disalahgunakan oleh oknum tertentu dengan memberikan tantangan untuk melafalkannya dan diberi Imbalan minuman keras. Lantas apa sebenarnya surah ad-dhuha dan bagaimana makna didalamnya ?
Pernahkah Sahabat thariq merasa hampa, terputus dari Allah, atau merasa seolah-olah doa dan ibadah tidak lagi memberikan kedamaian di hati? Perasaan bahwa Allah mungkin sedang murka atau membiarkan kita sendirian dalam penderitaan adalah salah satu ujian batin terbesar yang kerap dialami manusia.
Namun, Al-Qur’an memberikan obat penawar yang sangat hangat untuk kondisi mental dan spiritual ini melalui Surah Ad-Duha. Menurut Kementerian Agama RI dan diperkuat oleh penjelesan Ustadz Adi Hidayat, Ad-Dhuha adalah surah yang turun pada urutan ke 11 setelah masa kenabian dimulai. Surah Ad-duha terdiri dari 40 kalimat dan 102 huruf. Surah ini merupakan salah satu surah yang paling menenangkan hati, mengajarkan optimisme, dan menegaskan betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
1. Latar Belakang: Ketika Wahyu Terhenti Selama 6 Bulan
Untuk memahami kehangatan Surah Ad-Duha, kita perlu memahami konteks diturunkannya (Asbabun Nuzul). Surah ini diturunkan pada masa yang amat berat bagi Rasulullah SAW.
Selama kurang lebih enam bulan, wahyu terhenti total. Malaikat Jibril tidak berkunjung membawa ayat Al-Qur’an, dan Nabi SAW pun tidak mengalami mimpi-mimpi baik yang biasa menjadi bagian dari kenabian.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh kaum kafir Quraisy untuk mengejek Nabi dengan mengatakan bahwa Tuhan beliau telah meninggalkan dan membenci beliau. Hal ini menimbulkan kesedihan mendalam di hati Rasulullah SAW, hingga muncul kekhawatiran: “Apakah Allah membenciku? Apakah Allah tidak menginginkanku lagi sebagai Nabi?”
Kondisi kebatinan ini sangat relevan dengan apa yang kita rasakan saat mengalami masa-masa sulit atau depresi. Kita kerap berpikir bahwa Allah telah melupakan kita. Di sinilah Surah Ad-Duha turun sebagai jawaban langsung dari Allah untuk memeluk hati yang sedang berduka.
2. Membedah Pesan Surah Ad-Duha Ayat demi Ayat
Belajar dari Ritme Alam (Ayat 1–2)
وَالضُّحَىٰ (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (2)
“Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalahan), dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. Ad-Duha: 1-2)
Allah membuka surah ini dengan sumpah atas dua fenomena alam:
- Waktu Dhuha (Cahaya Pagi): Pesan pertama bagi seseorang yang sedang depresi atau berduka adalah untuk bangkit dan melihat cahaya matahari pagi. Kegelapan tidak akan berlangsung selamanya; selalu ada cahaya baru yang terbit.
- Waktu Malam yang Sunyi: Malam hari diciptakan untuk istirahat dan ketenangan. Banyak orang yang tertekan mengalami gangguan tidur di malam hari. Allah mengingatkan bahwa malam hadir untuk memberikan kenyamanan, bukan untuk menambah beban pikiran.
Kepastian Kasih Sayang Allah (Ayat 3–5)
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ (3)
“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu.” (QS. Ad-Duha: 3)
Inilah inti dari pesan penghiburan Allah. Allah menegaskan secara langsung: “Aku tidak pernah meninggalkanmu, dan Aku tidak pernah membencimu.” Kalimat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW dan menjadi penawar bagi setiap hamba yang merasa terasing dari kasih sayang Tuhan-Nya.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ (4) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (5)
“Dan sungguh, yang kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia). Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (QS. Ad-Duha: 4-5)
Allah Swt memberikan kepastian bahwa masa depan dan kehidupan akhirat akan jauh lebih baik daripada kesulitan yang dialami saat ini. Janji Allah sangat jelas: Dia akan memberikan balasan dan karunia yang begitu besar hingga hati hamba-Nya merasa puas dan penuh kegembiraan.
3. Mengingat Jejak Pertolongan Allah di Masa Lalu
Untuk memperkuat keyakinan manusia bahwa janji-Nya pasti terwujud, Allah mengajak kita merenungkan rekam jejak pertolongan Allah dalam kehidupan yang telah berlalu:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّالً فَهَدَىٰ (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ (8)
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Ad-Duha: 6-8)
Allah mengingatkan tiga fase pertolongan-Nya:
- Perlindungan saat lemah: Dulu ketika Nabi masih yatim tak berdaya, Allah-lah yang menyediakan perlindungan. Begitu pula kita; saat masih kecil dan rentan, Allah yang menjaga kita.
- Petunjuk saat bingung: Sebelum mendapat hidayah, kita tidak tahu arah tujuan hidup. Allah yang menggerakkan hati kita menuju kebenaran.
- Kecukupan saat kekurangan: Berapa kali dalam hidup kita merasa kebingungan secara finansial, namun Allah selalu membukakan jalan rezeki dari arah yang tak terduga?
4. Dua Resep Utama Al-Qur’an untuk Mengatasi Depresi
Di bagian akhir surah, Allah memberikan dua resep praktis (antidote) untuk menghilangkan perasaan sedih, depresi, dan rasa terputus dari Allah:
Resep 1: Alihkan Fokus dengan Membantu Orang Lain
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10)
“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardiknya.” (QS. Ad-Duha: 9-10)
Seseorang yang mengalami kesedihan atau depresi cenderung berfokus secara berlebihan pada penderitaan dirinya sendiri. Allah mengajarkan kita untuk keluar dari jebakan pikiran tersebut dengan melihat dan membantu orang-orang yang situasinya jauh lebih berat dari kita:
- Anak Yatim: Mereka tidak memiliki orang tua tempat bersandar, sedangkan kita masih memiliki keluarga.
- Peminta-minta (Orang Kelaparan): Mereka berjuang hanya untuk sekadar makan hari ini, sementara kita sering kali tidur dalam keadaan kenyang.
Resep 2: Tahadduts bin Ni’mah (Mengingat Nikmat Allah)
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11)
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau sebut-sebutkan (dengan bersyukur).” (QS. Ad-Duha: 11)
Obat penawar kedua adalah membiasakan diri menyebut dan menyadari nikmat-nikmat Allah. Ucapkanlah Alhamdulillah atas kesehatan mata, detak jantung, udara yang dihirup, serta kesempatan hidup hari ini. Jika Allah tidak mencintai kita, Dia tidak akan terus memberi kita rezeki dan kesempatan bernapas setiap detiknya.
5. Penutup: Berprasangka Baik (Husnuzhan) kepada Allah
Keyakinan ini adalah pilar utama dalam Islam. Jika Anda yakin bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun, maka Allah akan memperlakukan Anda sesuai dengan prasangka baik tersebut.
Ketika rasa sedih dan gelisah menghampiri, luangkan waktu untuk membaca dan merenungkan Surah Ad-Duha. Rasakan kehangatan kasih sayang Allah, dan yakinlah bahwa kemudahan serta kemenangan dari-Nya sudah sangat dekat.
Sumber : Kajian Syeikh Dr Tawfique Chowdhury




