Hikmah Jum’at : 3 Filosofi Menjadi Pekerja Shalih

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Dalam menjalani rutinitas harian, bekerja sering kali hanya dipandang sebagai sarana untuk bertahan hidup atau mencari nafkah. Padahal, jika digali lebih dalam melalui kacamata spiritual, Islam memandang kerja sebagai sebuah panggung pembuktian kualitas diri.

Allah SWT menantang manusia untuk menunjukkan performa terbaiknya, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ يٰقَوْمِ اعْمَلُوْا عَلٰى مَكَانَتِكُمْ اِنِّيْ عَامِلٌۚ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ مَنْ تَكُوْنُ لَهٗ عَاقِبَةُ الدَّارِۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ ۝١٣

“Hai kaumku (orang kufur) berbuatlah sepenuh kemampuan (dan sesuai kehendak kamu), Aku pun akan berbuat (demikian). Kelak, kamu akan mengetahui siapakah di antara kamu yang akan memperoleh hasil (kesudahan) yang baik dari dunia ini.” (QS al-An’am [6]: 135)

Ayat di atas menjadi alarm bagi kita bahwa bekerja bukanlah aktivitas tanpa arah. Untuk menjadi pekerja yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi, Al-Quran setidaknya menawarkan tiga filosofi budaya kerja yang wajib kita aplikasikan.

3 Filosofi Budaya Kerja Menurut Al-Quran

1. Kerja adalah Ibadah

Kerja tidak boleh dilepaskan dari esensi penciptaan manusia. Ketika kita melangkah ke tempat kerja dengan niat yang benar, aktivitas tersebut bertransformasi menjadi bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta. Hal ini sejalan dengan tujuan utama penciptaan makhluk:

  • “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS al-Dzâriyât [51]: 56)

2. Kerja Harus Sungguh-Sungguh (Totalitas)

Islam tidak mengenal budaya kerja setengah hati atau menunda-nunda. Begitu satu tugas selesai, seorang pekerja muslim yang berkualitas akan langsung bersiap untuk menyelesaikan tanggung jawab berikutnya dengan penuh optimisme. Seorang muslim juga senantiasa diarahkan untuk berharap hanya kepada Allah SWT atas pekerjaan yang dilakukan. Sebagaimana Firman-Nya:

  • “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS Al-Insyirah [94]: 7-8)

3. Kerja Harus Apik, Visioner, dan Berkualitas

Seorang pekerja yang baik tidak hanya memikirkan keuntungan jangka pendek, melainkan dampak jangka panjang dari apa yang dikerjakannya (bahkan hingga ke akhirat). Kerja yang apik membutuhkan ketelitian dan evaluasi diri yang berkelanjutan.

  • “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18)

Mengoptimalkan 4 Daya Pokok Manusia

Kerja adalah sebuah keniscayaan karena manusia dibekali modal insting dan potensi oleh Allah SWT. Syahrin Harahap dalam bukunya Islam Dinamis menyebutkan bahwa manusia dianugerahi empat daya pokok yang jika dioptimalkan akan melahirkan karya luar biasa:

  • Daya Fisik: Modal utama yang menghasilkan gerakan motorik, kegiatan fisik, dan keterampilan teknis (hard skills).
  • Daya Pikir: Dorongan intelektual yang membuat manusia mampu menganalisis, berinovasi, dan menghasilkan ilmu pengetahuan baru.
  • Daya Kalbu: Sentimen emosional dan spiritual yang membuat manusia mampu berimajinasi, mengekspresikan keindahan (estetika), menjaga integritas (iman), serta tetap terhubung dengan Sang Pencipta.
  • Daya Hidup: Bahan bakar mental yang menghasilkan semangat juang (daya resiliensi), kemampuan menghadapi tantangan, dan ketangguhan dalam menanggulangi kesulitan.

Menjadi “Pekerja Saleh”: Bukan Asal Kerja!

Karena manusia mustahil hidup tanpa mengaktifkan salah satu dari empat daya di atas, maka bekerja menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, yang menjadi catatan besar adalah: Allah tidak menuntut kita asal kerja, melainkan menuntut kerja yang saleh (amal saleh).

Apa itu kerja yang saleh? Saleh berarti sesuai dan bermanfaat. Pekerja yang saleh adalah profesional yang mampu mengawinkan potensi dirinya (fisik, pikir, kalbu, dan daya hidup) untuk menelurkan karya terbaik yang memberi dampak positif bagi orang banyak.

Etos kerja profesional ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)

“Sesungguhnya Allah senang apabila salah seorang di antara kamu mengerjakan suatu pekerjaan, (bila) dikerjakannya dengan baik (jitu/itqan).” (HR Thabrani)

Hadits ini merupakan penjelasan dari Alquran Surat At Taubah ayat 105:

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Ketika kita bekerja dengan standar kualitas yang tinggi (itqan), kita tidak hanya menyenangkan atasan atau klien, tetapi juga sedang menjemput cinta dan rida Allah SWT.

Sumber : Artikel (alm) Ustadz M. Ma’mun Salman, M.Pd.I (Guru Al-Qur’an LPIT TBZ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !