Thariq.sch.id- Dunia literasi dan riset di tingkat sekolah menengah kembali mencatatkan prestasi gemilang. Lima peserta didik dari SMAIT Thariq Bin Ziyad (TBZ) atas nama Fathia Alma Khalisa, Aliyandra Atthia Zahra, Nayla Rahdaulia Nourabiaz, Yusril Fahmi Adam, dan Syafiya Mulyo Ardi sukses mempublikasikan karya ilmiah mereka di jurnal nasional terakreditasi Sinta 3.
Karya ilmiah yang berjudul “From Political Decline to a Holy Revolt: Historical Comparison Between the Java War and Mahdist War” ini menarik perhatian akademisi karena keberaniannya melakukan studi komparatif lintas benua antara dua revolusi besar berbasis agama di abad ke-19.
Menelisik Akar Perlawanan: Dari Kemunduran Politik ke Revolusi Suci
Dalam risetnya, tim peneliti muda SMAIT TBZ ini membedah hubungan antara runtuhnya otoritas politik lokal dengan munculnya gerakan perlawanan rakyat di dua tempat berbeda: Perang Jawa (1825-1830) di Nusantara dan Perang Mahdi (1881-1899) di Sudan.
Berdasarkan hasil penelitian mereka, ada tiga poin krusial yang menjadi benang merah:
1. Pemicu Utama: Intervensi Asing dan Krisis Politik
Artikel ini menjelaskan bahwa kedua perang besar tersebut tidak terjadi secara spontan. Keduanya dipicu oleh melemahnya kedaulatan lokal akibat campur tangan kekuatan asing. Di Jawa, tekanan kolonial Belanda terhadap Kesultanan Yogyakarta menciptakan ketidakstabilan internal. Sementara di Sudan, ketidakpuasan terhadap pemerintahan Turko-Mesir yang korup serta meningkatnya pengaruh Inggris menjadi pemantik utama konflik.
2. Transformasi Menjadi “Holy Revolt”
Salah satu temuan menarik adalah bagaimana narasi agama menjadi kekuatan pemersatu (unifier).
- Pangeran Diponegoro di Jawa dipandang sebagai sosok “Ratu Adil” yang mengobarkan semangat Jihad fi Sabilillah.
- Di Sudan, Muhammad Ahmad mendeklarasikan dirinya sebagai “Al-Mahdi” untuk memurnikan ajaran Islam sekaligus mengusir penjajah.
3. Persamaan dan Perbedaan Strategis
Secara sosiologis, keduanya dikategorikan sebagai gerakan yang menanti pemimpin penyelamat. Keduanya juga memiliki akar masalah ekonomi yang sama, yaitu beban pajak yang sangat berat.
Namun, penelitian ini juga mencatat perbedaan akhir yang signifikan: Perang Jawa berakhir dengan pengukuhan total kekuasaan Belanda setelah penangkapan Pangeran Diponegoro, sedangkan Perang Mahdi sempat berhasil mendirikan negara teokrasi independen di Sudan sebelum akhirnya takluk oleh Inggris bertahun-tahun kemudian.
Keberhasilan publikasi di jurnal Sinta 3 merupakan bukti nyata kualitas literasi dan kemampuan berpikir kritis peserta didik SMAIT TBZ. Melakukan analisis sejarah global di usia sekolah menengah menunjukkan bahwa siswa mampu melampaui kurikulum standar dan berkontribusi pada diskursus ilmiah nasional.
Penelitian ini menegaskan sebuah kesimpulan kuat: Agama sering kali menjadi instrumen terakhir bagi bangsa yang tertindas untuk merebut kembali kedaulatan mereka ketika struktur politik formal telah runtuh.
Pencapaian Fathia dan kawan-kawan diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk terus berkarya dan menghidupkan budaya riset sejak dini. (PR Digital LPIT TBZ)




