Mengenal Dimethyl Ether (DME) “Sepupu” LPG yang Bakal Jadi Solusi Kedaulatan Energi Indonesia

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Pemerintah melalui Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, baru-baru ini memperkuat rencana besar untuk mengalihkan penggunaan LPG (Liquefied Petroleum Gas) ke Dimethyl Ether (DME). Langkah ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan strategi untuk menyelamatkan kas negara. Mengapa demikian? Saat ini, konsumsi LPG di Indonesia mencapai 10 juta ton per tahun, namun produksi dalam negeri hanya mampu menyuplai 1,6 juta ton. Artinya, Indonesia harus mengimpor 8,4 juta ton LPG setiap tahunnya.

Apa Itu Dimethyl Ether (DME)?

Secara teknis, DME adalah senyawa organik dengan rumus kimia CH3OCH3. Namun, agar lebih mudah dibayangkan, anggaplah DME sebagai “sepupu jauh” LPG yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

DME merupakan eter paling sederhana yang berbentuk gas tidak berwarna pada suhu kamar. Namun, senyawa ini sangat mudah dicairkan di bawah tekanan rendah, mirip dengan karakteristik gas yang selama ini kita gunakan di dapur.

Karakteristik Unik DME

  • Wujud Fisik: Gas pada tekanan atmosfer, tetapi berubah menjadi cair jika diberi tekanan sekitar 5 bar (setara dengan tekanan dalam tabung LPG).
  • Aroma: Memiliki bau sedikit manis secara alami, namun biasanya diberi zat pembau (odorant) tambahan untuk faktor keamanan.
  • Ramah Lingkungan: Tidak merusak lapisan ozon dan terbakar dengan sangat bersih tanpa menghasilkan partikulat atau asap hitam yang mengotori peralatan masak.

Kegunaan Utama: Bukan Sekadar Gas Dapur

DME memiliki peran multifungsi yang sangat luas di berbagai sektor industri:

  1. Substitusi LPG: Di Indonesia, fokus utamanya adalah sebagai alternatif gas memasak untuk mengurangi ketergantungan impor.
  2. Bahan Bakar Kendaraan: Dapat digunakan pada mesin diesel dengan sedikit modifikasi, menghasilkan emisi NOx dan sulfur yang jauh lebih rendah.
  3. Propelan Aerosol: Karena sifatnya yang tidak beracun, DME sering digunakan dalam kaleng semprot rambut (hairspray), cat semprot, hingga parfum.
  4. Bahan Baku Industri: Digunakan untuk memproduksi zat kimia penting lainnya, seperti dimethyl sulfate.

Perbandingan: DME vs LPG

Sebelum beralih, penting bagi kita untuk memahami perbedaan mendasar antara kedua bahan bakar ini:

FiturLPGDME
Sumber UtamaMinyak Bumi / Gas AlamBatubara, Gas Alam, Biomassa
Emisi Gas BuangRendahSangat Rendah (Tanpa Partikulat)
Tekanan TangkiMenengahMirip LPG (Bisa pakai infrastruktur serupa)
Kandungan EnergiTinggiSekitar 60-70% dari LPG

Meskipun Dimethyl Ether (DME) disebut-sebut sebagai bahan bakar masa depan, ia bukan tanpa cela. Ada alasan mengapa transisi dari LPG ke DME tidak terjadi dalam semalam.

Berikut adalah beberapa kekurangan dan tantangan utama dari DME:

1. Nilai Kalori (Densitas Energi) yang Lebih Rendah

Ini adalah kekurangan yang paling terasa bagi pengguna akhir. DME memiliki densitas energi yang lebih rendah dibandingkan LPG atau Diesel.

  • Perbandingannya: Nilai kalor DME sekitar 28–30 MJ/kg, sedangkan LPG mencapai 46–50 MJ/kg.
  • Dampaknya: Untuk memasak air dalam jumlah yang sama, Anda butuh volume DME sekitar 1,5 hingga 1,6 kali lebih banyak daripada LPG. Jadi, tabung gas akan lebih cepat habis jika ukurannya sama.

2. Kompatibilitas Material (Masalah Seal & Karet)

DME bersifat sebagai pelarut (solvent) yang cukup kuat. Ini adalah masalah teknis yang krusial.

  • Masalahnya: DME dapat merusak atau membengkakkan material berbahan karet (elastomer) dan plastik tertentu yang biasanya digunakan sebagai seal, gasket, atau selang pada sistem LPG konvensional.
  • Risikonya: Jika Anda langsung memasukkan DME ke sistem LPG tanpa modifikasi, risiko kebocoran gas akan sangat tinggi karena seal yang rusak.

3. Rendahnya Daya Lubrisitas (Pelumasan)

Khusus jika digunakan sebagai pengganti Solar (Diesel) pada kendaraan:

  • Masalahnya: DME adalah gas yang “kering” dan tidak memiliki sifat pelumasan alami seperti solar.
  • Akibatnya: Pompa bahan bakar dan injektor mesin bisa cepat aus atau rusak karena gesekan. Untuk mengatasinya, diperlukan penambahan zat aditif pelumas ke dalam DME.

4. Investasi Infrastruktur yang Mahal

DME tidak tersedia secara bebas di alam seperti gas alam; ia harus diproduksi (biasanya dari gasifikasi batubara atau biomassa).

  • Pabrik Pengolahan: Membangun pabrik gasifikasi batubara menjadi DME membutuhkan biaya modal (CAPEX) yang sangat besar.
  • Modifikasi Alat: Karena perbedaan densitas energi dan sifat kimiawi (seperti rasio udara-bahan bakar), kompor LPG yang ada sekarang perlu dimodifikasi (pada bagian jet nozzle) agar api yang dihasilkan tetap stabil dan biru.

Mengapa Indonesia Sangat Tertarik pada DME?

Alasan utamanya adalah kemandirian energi. Indonesia memiliki cadangan batubara yang sangat melimpah, terutama jenis batubara kualitas rendah yang sulit diekspor.

Dengan teknologi gasifikasi, batubara kualitas rendah tersebut diolah menjadi gas sintetis yang kemudian diubah menjadi DME. Strategi ini memungkinkan Indonesia memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dapur rakyat, sekaligus menghentikan aliran dana triliunan rupiah ke luar negeri untuk impor LPG.

Sumber : Kementerian ESDM, International DME Association, Lemigas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !