50 Hari Kesunyian: Ketika Ka’ab bin Malik Memilih Jujur kepada Allah

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram

Thariq.sch.id- Ramadan telah berlalu. Hiruk pikuk kaum muslimin mewarnai ibadah Ramadan sudah jauh berkurang. Semangat ibadah yang sempat memuncak, kini diuji oleh rutinitas kehidupan.

Di momen seperti inilah, kita perlu sebuah cermin. Dan salah satu cermin paling jujur itu adalah kisah seorang sahabat Nabi: Ka’ab bin Malik ra. Ka’ab bukan orang biasa. Ia selalu ikut dalam berbagai peperangan. Sosoknya dikenal jujur, beriman, dan memiliki kedudukan yang baik di tengah kaum Muslimin.

Namun suatu hari, ia melakukan satu kesalahan. Saat Rasulullah ﷺ mengajak kaum Muslimin untuk berangkat ke Perang Tabuk, Ka’ab tidak ikut. Bukan karena tidak mampu. Bukan karena sakit. Tapi karena menunda… dan terus menunda. Hingga akhirnya, pasukan berangkat tanpa dirinya. Bukan hanya Ka’ab. Tapi beberapa orang lainnya juga tidak berangkat, dan sebagiannya adalah orang-orang munafik.

Ketika Rasulullah kembali ke Madinah, orang-orang munafik datang dengan berbagai alasan. Mereka berbohong, dan Rasulullah menerima alasan mereka secara lahiriah. Namun Ka’ab memilih jalan yang berbeda. Ia berkata jujur. Ia mengakui kesalahannya tanpa alasan, tanpa pembelaan. Namun karena kejujurannya itu, ia mendapat ujian yang sangat berat.

Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum Muslimin untuk tidak berbicara dengannya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Bayangkan, seorang sahabat Nabi, hidup di kota yang sama, tetapi seperti orang asing. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang menjawab salamnya. Bahkan sebagian memalingkan wajah saat berpapasan dengannya. Hari demi hari berlalu. 10 hari, 20 hari, 30 hari, Hingga genap 50 hari dalam kesunyian.

Pada hari ke-40, ujian semakin berat. Ia diperintahkan untuk menjauhi istrinya. Dunia terasa semakin sempit. Hatinya sesak. Ka’ab pernah naik ke atas bukit, memandang Madinah dengan airmata meleleh dan dada yang sesak. Bumi yang luas ini terasa begitu sempit baginya.

Di tengah semua itu, ia tetap bertahan. Ia tidak menarik ucapannya. Ia tidak mengubah kejujurannya menjadi kebohongan demi keluar dari ujian. Ia memilih tetap jujur kepada Allah.

Hingga akhirnya, pada hari ke-50, kabar itu datang. Allah menurunkan ayat tentang diterimanya taubat Ka’ab bin Malik. Langit yang seakan tertutup selama ini, akhirnya terbuka. Tangisnya pecah. Bukan karena penderitaan, tetapi karena bahagia, rahmat Allah yang kembali menyapanya.

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah (pula terasa) sempit bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (Surah At-Taubah : 118)

Kisah ini terasa sangat dekat dengan kita, terutama setelah Ramadan. Bukankah kita juga sering menunda?

Menunda taubat. Menunda memperbaiki diri. Menunda kembali kepada Allah. Dan sering kali, kita menutupi semua itu dengan alasan. Namun Ka’ab mengajarkan sesuatu yang sangat mahal yaitu kejujuran, meskipun itu menyakitkan.

Ramadan telah melatih kita untuk mendekat kepada Allah. Namun Syawal dan bulan-bulan setelahnya adalah ujian, apakah kita akan tetap jujur dalam menjaga iman itu?

Kejujuran tidak selalu mudah. Kadang ia membuat kita “terasing”. Kadang ia membuat kita harus menghadapi kenyataan pahit tentang diri sendiri. Tetapi justru di situlah pintu taubat terbuka.

Kisah Ka’ab bin Malik mengajarkan bahwa Allah tidak mencari hamba yang sempurna. Allah mencari hamba yang jujur dan kembali.

Baca : Sabilla Afenti Rahmadany, Siswi SMPIT Thariq Bin Ziyad Terpilih Menjadi Peserta Jambore Nasional XII

Maka setelah Ramadan ini, mungkin yang paling kita butuhkan bukan sekadar menambah amal, tetapi menjaga kejujuran hati. Jujur bahwa kita masih lemah. Jujur bahwa kita masih sering lalai. Dan jujur bahwa kita sangat membutuhkan ampunan Allah.

Karena bisa jadi, kejujuran itulah yang akan menjadi jalan kita menuju rahmat-Nya.

Raḍiyallāhu ‘anhu, wahai Ka’ab bin Malik.

Ditulis oleh : Sri Maharani Candra C, S.Pd (Guru SMPIT TBZ)

Referensi : Riyadus Sholihin: Kisah Taubatnya Ka`ab bin Malik, “Bab Taubat – Pertemuan 1”. Ceramah Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A., Kisah Kejujuran dan Pertobatan Kaab bin Malik, NU Online, nu.or.id, Ka’ab Bi Malik, Ra. Dan Manisnya Sebuah Kejujuran, Majalah Assunnah,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1000 siswa baru telah terdaftar !